Terapi Shalat Bahagia tak jauh berbeda dengan shalat umumnya.
Terapi Shalat Bahagia dilengkapi dengan merenungi poin-poin di setiap
gerakannya. Kemudian, shalat bahagia ini dianjurkan untuk shalat yang dilakukan
sendirian, tidak untuk berjamaah. Terapi sholat bahagia diterapkan agar
kualitas sholat kita lebih meningkat dan lebih khusyu’. Dan sekarang ini masih
banyak orang yang resah gelisah karena merasa kurang bahagia, maka penerapan
sholat bahagia ini menjadi salah satu alternatif. Dan sholat juga bisa membantu
kita untuk menyelesaikan masalah. Berangkat dari sana maka tujuan dari adanya
terapi shalat bahagia ini, agar kita sadar bahwa selama ini kualitas shalat
kita masih kurang. Tak perlu jauh untuk memahami satu-satu bacaan kita, untuk
jelas dan sadar dalam membaca ayat demi ayat aja terkadang kita teledor.
Kemudian kita belum sadar bahwa shalat adalah sebuah alat, alat yang dapat kita
gunakan untuk meraih kebahagian, namun karena kita belum mengerti bagaimana
cara yang baik dalam menggunakanalat itu
maka fungsi alat tersebut berkurang, bahkan tidak ada. Dengan hadirnya terapi
shalat ini, maka tujuannya adalah agar kita sadar dan dapat meraih kebahagiaan
melalui shalat yang selama ini kita lakukan.
·
Proses atau langkah-langkah Terapi Shalat Bahagia
Terapi Shalat Bahagia sama
dengan shalat-shalat yang kita lakukan selama ini. akan tetapi perbedaanya
adalah, di dalam shalat ini kita memahami pokok-pokok yang terkandung dalam
enam gerakan di dalam shalat. Di antaranya adalah:
a. Berdiri, saat berdiri kita membaca
Al-Fatihah, di dalam Al-Fatihah ada poin-poin atau pokok-pokok yang terkandung
yang mesti kita renungi dan kita hayati saat berdiri tadi. Poin-poinnya adalah
Syukur, Bimbingan dan Ketahanan Iman, atau biasa disingkat SUBHAN. Setelah
membaca Al-Fatihah kita merenungi poin syukur, kita bersyukur ini itu,
selanjutnya poin bimbingan dan selanjutnya ketahanan iman.
b. Rukuk, saat rukuk juga kita
merenungi poin-poin di dalam doa yang kita baca saat rukuk. Dan poin yang
terkandung adalah Tunduk dan Menurut atau disingkat TURUT. Jika kita renungi
dan kita pahami dalam doa yang kita baca dalam rukuk, kedua poin inilah yang
mewakili atas arti dalam doa tersebut. setelah membaca doa rukuk lalu kita
merenungi makna poin TURUT tadi.
c. I’tidal, atau bangkit dari rukuk. Saat
i’tidal kita juga merenungi poin yang terkandung di dalam doa yang kita baca,
yakni hak pujian dan takdir atau biasa disingkat TAKDIR. Kita membacanya
setelah selesai membaca doa i’tidal terelebih dahulu, dan poin-poin iti kita
renungi hanya di dalam hati. Dalam poin ini kita menyadari betul bahwa Allah
adalah dzat yang maha dipuji tak ada pujian yang lebih besar
terhadap-Nya. d. Sujud, dalam gerakan sujud poin yang harus kita
pahami adalah poin Maaf,
Sinar Jiwa dan Raga atau yang biasa
disingkat MASJID. Uniknya semua poin itu disingkat dengan baik dan mudah
diingat.
e. Duduk antar dua sujud, di dalam
gerakan ini kita juga merenungi dan menghayati poin-poin yang terkandung di
dalamnya, yakni Ampunan, Kasih, Sejahtera dan Iman. Keempat poin tersebut
disingkat AKSI. Poin-poin ini direnugi dan dihayati setelah selesai membaca doa
duduk antara dua sujud. Di sini kita banyak curhat masalah kita dan konflik
yang kita rasakan, di renungan ini kita benar-benar bisa meneteskan air mata
kita karena menyadari betapa banyaknya dosa yang telah kita perbuat.
f. Duduk tasyahud awal/akhir, di gerakan yang
keenam dan gerakan terakhir untuk terapi shalat bahagia, kita juga merenungi
poin-poin yang terkandung di dalamnya, poinya adalah Shalwat, Persaksian dan
Tawakkal, dan disingkat SOSIAL. Ketiga poin itu kita renungi dan kita hayati
serta kita maknai sedalam-dalamnya ketika setelah membaca doa duduk antara
tasyahud awal atau akhir.
Kita dianjurkan untuk kita yang shalat sendirian,
dan tidak diperuntukkan untuk shalat berjamaah. Maka yang selama ini kita
mengira bahwa kita hanya berdoa di waktu sujud, kita akan sadar bahwa setiap
gerakan dalam shalat dapat menjadi waktu kita untuk curhat dan memohon kepada
Allah. Sebelum melaksanakan shalat kita harus berwudu dengan cara yang baik,
yaitu dengan merenugi dan bersyukur atas air dan berdzikir juga melalui air
yang dibasuh ketubuh melalui air tersebut. kemudian berpakaianlah yang rapi nan
bersih lalu shalatlah dengan metode terapi shalat bahagia, maka semoga kita
akan meraup kebahagian, baik kebahagian rohani dan kebahagiaan jasmani.
·
Proses
Pelaksanaan Terapi Sholat Bahagia
Terapi sholat bahagia dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dan
pendalaman. Pelatihan ini dilaksanakan pada tanggal 23 November 2019. Pada
pelatihan ini diisi oleh Ibu Ati’ Nursyafaah, M. Kom,I dan Ibu Baiti S.sos I,
Asistennya Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M. Ag selaku founder, pencetus dan
pelatih dalam terapi ini. beliaulah yang mencetuskan pertama kali pelatihan ini
di Indonesia bahkan dunia.. Saya sebagai mahasiswa semester 1 yang baru belajar
mengenai terapi sholat bahgia ini sangat bersyukur bisa dibimbing oleh
pencetusnya langsung bersama teman-teman sekelas saya. Peserta terapi sholat
bahagia merupakan mahasiswa semester 1 yang dibimbing oleh Prof Ali dari kelas
MD, BKI, ILKOM, dan KPI. Kita dibimbing langsung dan di praktekkan langsung
dengan bimbingan dari beliau . Sebelum pelaksanaan pelatihan, yang di mana di
dalam pelatihan tersebut akan dilakukan terapinya, Kita diberikan buku panduan
terapi sholat bahagia yang hanya diberikan kepada peserta yang mendapat
kesempatan pendalaman terapi sholat bahgia yang dilaksanakan bersama Prof.Ali
Aziz M. Ag.
Jam 06.00 WIB kita harus sudah berkumpul di Kun Yaquta yakni tempat
berlansungnya pendalaman terapi sholat bahagia. Jam 08.17 WIB, pelatihan
dimulai. Pelatihan ini dilaksakan di Kun Yaquta. Pelatihan Terapi sholat
bahagia diawali dengan pengenalan pemateri, latar belakang dan penjelasan
tentang Kun Yaquta, yaitu lembaga yang memiliki kewenangan untuk merawat,
mengatur dan mengmebangkan pelatihan terapi sholat bahagia. Panjang lebar
pemateri menjelaskan bagaiamana, awalnya terapi sholat bahagia ini dapat hadir
di hadapan kita semua. Apakah hal itu hanya tiba-tiba dan proses mermuskan terapi
sholat bahagia semudah membalikkan telapak tangan?. Jam 08.40 materi terapi sholat bahagia mulai
dijelaskan perlahan namun pasti oleh pemateri. Dari aura dan sikap pemberian
materi oleh pemateri, terlihat bahwa beliau mempunyai jam terbang tinggi untuk urusan
retorika dan public speaking. Karena tutur katanya teratur, pemilihan diksi
yang baik dan mudah dipahami setiap kalangan dan tidak terdengar berbicara
ke-ilmiah-an. Pemberian materi sebelum
praktik untuk terapi sholat bahagia, menggunakan LCD sebagai media yang
membantu pemateri menyampaikan materinya. Ruangan yang menjadi pelatiahnnya
dikonsep menjadi tempat pelatihan senyaman mungkin dan senikmat mungkin. Selain
dilengkapi dengan AC, lantai juga dilapisi dengan karpet.
Peserta mengikuti pelatihan
ini terlihat antusias, hal ini dibuktikan dengan banyaknya yang bertanya dengan
pemateri dan hampir 100 persen tidak ada yang ngantuk apalagi tertidur. Di
sela- sela pelatihan, pemateri juga menyelipkan nasihat-nasihat dan pegangan
dalam hidup. Pemateri menekankan agar manusia tidak mudah mengeluh. Sesai
firman Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, Barang siapa yang tidak
terima dengan baik dan buruknya takdir, maka carilah Tuhan selain aku.
Jam 10.19 pemateri mulai menjelaskan tentang pokok-pokok yang
menjadi inti dalam terapi sholat bahagia. Setelah saling melafalkan bacaan
pokok-pokok terapi sholat bahagia, peserta mulai diajak untuk memperaktekannya.
Saat praktik ini, salah seorang dipilih oleh pemateri untuk menjadi sampel,
sehingga memudahkan peserta lainnya untuk melihat keabsahan gerakan sholat yang
benar. Terapi sholat bahagia dilakukan dengan merenungi pokok-pokok dalam enam
gerakan sholat. Yakni, Pokok (1) Subhan (Syukur, Bimbingan dan Iman) ini
direnungi saat berdiri setelah membaca Al- Fatihah, (2) Turut (tunduk dan
menurut) ini direnungi saat rukuk setelah membaca doa rukuk, (3) Hadir (Hak
Pujian dan Takdir) ini direnungi saat bangkit dari rukuk, ketika i’tidal, (4)
Masjid (Maaf, Sinar, Jiwa dan Raga) ini direnungi saat sujud, (5) Aksi
(Ampunan, Kasih, Sayang dan Iman) ini direnungi saat duduk antar dua sujud, (6)
Sosial (Sholawat, Persaksian dan Tawakkal) ini direnungi saat duduk tasyahud
awal/akhir.
Setelah dihapalkan dan dilafadzkan bersama agar semua peserta mudah
dalam memperaktekkannya, peserta diminta untuk menulis daftar masalah, dan
daftar anugerah dalam hidupnya. Apapun masalahnya, terlebih lagi tentang
kecemasan yang dirasakan oleh peserta. Saat penulisan ini, musik diputar agar
memberikan suasana yang nyaman.
Kemudian, peserta diminta
untuk membaca ulang daftar-daftar tersebut dan dihapal, karena saat praktek
shalat semua daftar tersebut akan dicurahkan. Jika kita mengucapkan dan
memperaktekkannya maka, keberhasilan dalam suatu hal akan mencapai 90%. Lalu
peserta mulai berdiri mengambil posisi shalat, dan mulai mengikuti intruksi
yang diberikan oleh pelatih juga trapis. Peserta diminta mempraktekkan gerakan
demi gerakan dan memahami dan merenungi poin-poin yang telah diajarkan dan
dihapalkan sebelumnya. Saat berdiri setelah takbiratul ihram dan membaca
Al-Fatihah, peserta merenugi poin SUBHAN, yakni syukur, bimbingan dan ketahanan
iman. Dalam poin syukur ini peserta diminta untuk menyebutkan daftar anugerah
yang telah ditulis sebelumnya, dengan begitu kita akan menyadari betapa
banyaknya anugerah yang kita miliki, namun kita masih tamak dan tak pernah
merasa cukup. Setelah berdiri kemudia Rukuk, saat rukuk peserta membaca doa
rukuk sebagaimana biasanya, kemudian poin- poin yang didalamnya dibaca dan
direnungi, adapaun poinnya adalah tunduk dan menurut. Pada gerakan adalah sikap
penghambaan diri kita kepada Allah, betapa hinanya kita dan kita rela dan
menurut unutuk dipenggal leher kita, hal mengajarkan bahwa kita siap diapnggil
Allah kapan saja. Dalam rukuk, kita mencurahkan segala masalah-masalah kita dan
memasrahkan bahwa Allah lah yang mengatur segalanya. Pada gerakan selanjutnya
I’tidal. Dalam gerakan ini kita merenugi poin Hadir. Selanjutnya gerakan sujud,
setelah membaca doa sujud, kita diminta untuk merenungi poin-poin dalam sujud,
yakni Masjid. Saat sujud ini kita kembali mencurahkan isi hati kita kepada
Allah, mecurahkan keluhkesah kita, masalah kita dan kecemasan serta kegundahan
yang kita rasakan. Saya kasih contoh misalnya kita punya masalah suka ke dapur
bolak-balik hanya karena kurang yakin apakah kompor sudah mati atau masih
nyala. Maka yang kita ucapkan adalah:
1. Wahai Allah, saya memiliki masalah dengan keyakinan saya, bahwa
saya sering ragu apakah saat mematikan kompor benar- benar mati
2. Wahai Allah, saya ikhlas dan ridlo dengan masalah tersebut dan
saya tidak mengeluh, dan berusaha untuk memperbaikinya.
3. Wahai Allah, saya yakin, yakin, yakin, Engkau pasti, [asti,
pasti Mahakuasa memberi hamba kayakinan dan pikiran positif dan dapat
menyelesaikan masalah saya, agar saya ketika mengerjakan sesuatu benar-benar
tuntas
4. Wahai Allah, saya pasrah dengan apa yang Engkau tentukan, karena
semua ketentuan-Mu adalah ketentuan yang terbaik.
Setelah praktik tersebut pemateri mengajak peserta untuk tunduk dan
meresapi pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pemateri dengan menjawab dengan
dua jawaban, pertama Iya kemudian dilanjut dengan Astaghfirullah dan kedua
Tidak dan dilengkapi dengan Alhamdulillah.
Kemudian di akhir pemateri membaca doa untuk kembali menghayati
apa-apa yang sudah kita lakukan, dan mengintropeksi diri dan bermuhasabah
dengan banyaknya dosa yang sudah kita perbuat. Kemudian pemateri menutup dengan
memberikan semangat kepada peserta untuk terus memperbaiki sholat dan
menjadikan sholat sebagi sumber kehidupab, karena dengan begitu
kecemasan-kecemasan yang mengganggu kita dapat berkurang bahkan hilang.
Komentar
Posting Komentar